Makan Malam di Bebek Bengil Menteng

Makan Malam di Bebek Bengil Menteng

minumEs Hanuman

bebek goreng.jpgBebek Bengil

Read the rest of this entry »

Advertisements

Sate Kambing dan Ayam Jaya Agung Jakarta

Sate Kambing dan Ayam Jaya Agung Jakarta

Sate Kambing dan Ayam Jaya Agung Jakarta, jalan KH. Wahid Hasyim no 56 C, Jakarta

Sate Kambing dan Ayam Jaya Agung Jakarta

Menu yang tersedia Read the rest of this entry »

Bebek Ginyo Tebet

Bebek Ginyo Tebet

Bebek Ginyo

Bebek Bakar Read the rest of this entry »

Bebek Goreng Kaleyo (Kalih Yo) Rawamangun

Bebek Goreng Kaleyo (Kalih Yo) Rawamangun

Bebek Kaleyo, jln Waru 37, Rawamangun, Jakarta Timur,
telpon 021-95700044

Luqman dan Bu Indri

Bebek Cabai Hijau Read the rest of this entry »

Menikmati Sate Kambing di Pondok Sate Kambing Muda Pejompongan

Menikmati Sate Kambing di Pondok Sate Kambing Muda Pejompongan

Pondok Sate Kambing Muda Pejompongan, Jln Pejompongan Raya no 2B, Benhil,
Jakarta Pusat Telpon 021-5708783

Kamis 7 Mei 2009, saya diajak Mas Yasser untuk makan malam di Pondok Sate Kambing Muda Pejompongan. Kami janjian untuk bertemu di Senayan City setelah saya mengantar Afa dan Ibunya di Stasiun Gambir. Setelah kereta Gajayana yang ditumpangi Afa dan Ibunya berangkat jam 17.45, saya segera menuju Senayan City dengan naik Blue Bird. Saya sampai di Senayan City jam 18.30 dan segera menemui Mas Yasser sekeluarga yang sudah lama menunggu. Kami pun kemudian berangkat menuju Pondok Sate Kambing Muda Pejompongan dengan menggunakan Civic Mas Yasser.

Sekitar jam 19.15 kami sampai di Pondok Sate Kambing Muda Pejompongan. Menurut Mas Yasser, Pondok Sate Kambing Muda Pejompongan ini merupakan salah satu tempat makan favoritnya, yang rasanya tidak kalah dengan Sate Samirono. Mas Yasser mengajak saya makan di sini agar saya bisa membandingkan dengan Sate Klatak favorit saya, beliau terinspirasi setelah membaca Menikmati Sate Klatak Wedus Mas Barry .

Mas Yasser segera memesan menu makan malam buat kami, yaitu 2 porsi sate kambing tanpa lemak @ 10 tusuk, satu porsi sate ayam @ 10 tusuk dan semangkuk tongseng kambing. Sambil menunggu pesanan datang kami bercerita panjang lebar mengenai macam-macam, dari milis kagamamuda, klp dua, kampung UGM dan tentang kegiatan kami masing-masing, ditemani dengan otak-otak dan tahu petis sebagai cemilan.

Otak-otakOtak-otak

TahuTahu

Sekitar sepuluh menit kemudian pesanan kami datang. Sate kambing dengan bumbu kecap dilengkapi dengan irisan bawah merah dan tomat. Sementara sate ayamnya dilengkapi dengan bumbu kacang. Dan seporsi tongseng dengan kuah yang kental dihidangkan dengan menggunakan mangkuk.

Read the rest of this entry »

Munas kampung-UGM di Pondok Sunda Senayan City

Munas kampung-UGM di Pondok Sunda Senayan City

Pondok Sunda Senayan City LG. 78, Jl. Asia Afrika Lot 19, Jakarta Selatan
Telp: 021-72781388

Selasa, 5 Mei 2009, saya bertemu dengan Mas Rovicky di lantai bawah JCC. Mas Rovicky merupakan kakak kelas saya di geologi dan mentor “virtual” di milis kampung-UGM. Saat itu saya baru selesai mengecek poster yang dipamerkan pada saat IPA conference yang ke-33, sedangkan Mas Rovicky sedang mengobrol dengan Mas Iswani dan Mas Henry Banjarnahor. Mas Rovicky kemudian menyuruh saya untuk mengadakan gathering milis kampung-UGM, lokasinya di Senayan City, waktunya Rabu malam. Saya kemudian minta tolong Intan untuk membuat undangan di milis kampung-UGM.

Rabu, 6 Mei 2009, saya, Afa dan Ibunya berangkat dari hotel Mulia jam 19.00. Awalnya saya tidak akan mengajak Afa karena dia kelihatan capek setelah seharian main-main ke Sea World dan Gelanggang Samudera, namun dia minta ikut dan ndak mau ditinggal di hotel dengan Ibunya. Kami kemudian naik taxi di depan hotel Mulia. Anung sudah sampai duluan, dan menunggu di lower ground Senayan City, Mas Rovicky juga sudah sampai, saya kemudian menginfokan posisi Anung ke Mas Rovicky.

Jam 19.30 kami bertiga sampai di Senayan City, perlu waktu 30-an menit untuk menempuh jarak Mulia-Senayan City yang hanya sekitar 1 km-an [termasuk nunggu taxi], padahal kalau sendirian jalan kaki cuma perlu waktu sekitar 15 menit. Anung dan Mas Rovicky sudah menunggu, dan kamipun kemudian mencari tempat untuk makan malam dan mengobrol.

Saya dan Mas Rovicky tidak mengetahui tempat makan yang enak [makanan dan suasananya], sehingga keputusan di serahkan ke Anung. Anung kemudian mengajak kami ke Pondok Sunda di LG. 78. Begitu masuk, kami langsung diminta untuk memilih lauk. Ada bermam-macam lauk dan sambal khas rumah makan Sunda yang disediakan rumah makan ini. Setelah memilih lauk untuk makan malam kami, kami kemudian mengambil tempat duduk di bagian belakang, yang rencanananya dipesan untuk 6 orang. Sambil menunggu pesanan makanan kami datang, kami berdiskusi ngalor ngidul. Salah satunya, Mas Rovicky menyarankan posisi kontrak ataupun permanen, yang paling penting adalah besarnya penghasilan pertahunnya kalau mau pindah pekerjaan. [Menurutku ini cocok untuk Mas Rovicky yang mempunyai reputasi yang sangat baik dan jaringan yang luas, sementara saya masih membangun reputasi itu]

Tidak berapa lama kemudian, pesanan makanan kami sudah tiba. Anung dan Mas Rovicky memilih lauk a.l tahu isi, empal, tempe bacem, ayam bakar dan mendoan. Sedangkan saya dan Ibunya Afa memesan ikan asin, tahu goreng, mendoan, ayam bakar usus goreng dan sate udang. Afa tidak kalah memesan sop buntut.

LaukLauk Anung dan Mas Rovicky

Read the rest of this entry »

Menikmati Bakso Lapangan Tembak Senayan

Menikmati Bakso Lapangan Tembak Senayan

Selasa 5 Mei 2009, saya beruntung mendapat kesempatan makan malam di Bakso Lapangan Tembak  Senayan. Malam ini, mestinya saya bersama dengan teman-teman dari CPI makan malam di Gala Dinnernya IPA di JCC, sayangnya ketika kami sampai di JCC jam 19.15 makanan sudah habis. Dan kami memutuskan untuk makan malam di Bakso Lapangan Tembak.  Teman-teman di drop di Bakso Lapangan Tembak, sementara saya ikut bis balik ke Hotel Mulia untuk menjemput Afa dan Ibunya. Kami kemudian jalan kaki dari Hotel Mulia ke Bakso Lapangan Tembak.

bakso-lapangan-tembak1Bakso Lapangan Tembak

Bakso Lapangan Tembak didirikan oleh Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono – nama yang dianugerahkan Sultan Hamengkuwono IX tahun 1980-an – pada tahun 1971. Widyanto keluar-masuk kampung menjajakan bakso pikulnya. Di siang hari, biasanya ia mengelilingi gang kampung Petamburan, Slipi, Pejompongan dan Gelora Senayan. Dan malam harinya, ia biasa mangkal di kawasan Lapangan Tembak Senayan (kini telah berubah menjadi Hotel Mulia) . Hingga  akhirnya, di tahun 1982 ia memutuskan mangkal tiap hari di luar pagar kompleks Lapangan Tembak Senayan.
Dan  tahun 1983 ia diizinkan memboyong gerobak baksonya ke dalam kompleks, dan sejak itu baksonya dikenal masyarakat dengan sebutan Bakso Lapangan Tembak Senayan.

menu1Menu Bakso Lapangan Tembak

Read the rest of this entry »