Angkringan Cekli

Angkringan Cekli


Angkringan Cekli adalah inovasi Angkringan konvensional, dimana pada tahun 1959 Mbah Pairo (Bapak dari Lik Man, Angkringan Stasiun Tugu) menjual Angkringan dengan dipikul sambil berteriak Hiiiyeeeeek. Teriakan tersebut sekarang menjadi sebutan Angkringan di Solo (HIK: Hidangan Istimewa Kampung). Mbah Pairo asal Cawas, Klatenlah yang menyebarkan Angkringan ke Jogja, yang sekarang banyak dijual dengan gerobak dan 3 ceret khas Angkringan menjadi urat nadi perminuman.

Angkringan Cekli mengubahnya menjadi semacam resto, makanan tetap tersaji prasmanan, gerobak asli Angkringan juga menjadi urat nadi perminuman, dilengkapi dengan lesehan, meja kapasitas 4 orang dan meja kapasitas 8 orang. Dengan inovasi tempat, konsumen bertambah, karena kalau dipinggir jalan dengan gerobak kapasitas sedikit dan dikuasai anak muda, Di Angkringan Cekli tua, muda, laki, perempuan bisa masuk dan betah.

Makanan di Angkringan Cekli 90% bikin sendiri, lebih higienis, bervariasi. Sego kucing di Angkringan Cekli ada 8 macam, selain pakem Angkringan umumnya tempe, tahu dan teri, di Angkringan Cekli ada Sego kucing telur lombok ijo, Sego kucing Ayam, Sego kucing bandeng presto, Sego kucing jamoer crispy dan Sego Kucing bakar. Kepala ayam, cakar ayam, sate usus juga menjadi hidangan wajib, di Angkringan Cekli ada versi bumbu pedasnya, semisal kepala Ayam Pedas. Ada sayap mercon (sayap ayam pedas menggila), Gorengan ada 9 macam, salah satunya ada Tahu Granat. Krupuk minimal 4 macam, bagi yang kangen jadah bisa dibakar, makanan gorengan, dan lain2pun bisa dibakar, bisa request pakai kecap atas saos. Makanan rakyat lain, pisang rebus, dll pun menghiasi meja sepanjang 5meteran.

Wedang? sudah tentu, ada 20 macem dan itu masih kurang lengkap. Kopi Jhoos, tentu ada.

Angkringan Cekli saya selundupkan misi menaikkan derajat makanan rakyat, karena masakan asing sudah banyak menyerbu Indonesia, bahkan sampai daerah. Dengan dikemas bagus, masyarakat responnya positif, tidak kalah dengan fastfood, Angkringan Cekli lebih cepat, konsumen datang tinggal pilih dan makan. Bangunan bambu 8 x 20m menampung 100 pengangkring dalam satu waktu. Dimanjakan dengan parkir gratis, free wi-fi, dll. Didaerah saya masyarakat butuh public space, mereka banyak nongkrong di jalan, lalu makan nasi kering (semacam angkringan) dijalanan dan ramai, saya menyerap itu dan berhasil tentu dengan nilai tambah.

Untuk pegawai saya tidak melakukan rekruitmen, saya mencari orang yang membutuhkan kerja khususnya anak yatim piatu dan yang kurang mampu. Mungkin itu sedikit info tentang Angkringan Cekli, kalau diceritakan masih panjang, saya visualiasikan via foto saja.

Salam Cekli,
Robby Adiarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: