Melepas Dahaga dengan Dawet Selasih Bu Watik

Melepas Dahaga dengan Dawet Selasih Bu Watik

Dawet Selasih Bu Watik, Pasar Gede, Solo

Sabtu 26 Desember 2009, setelah makan siang di bebek goreng H Slamet Kartosuro, kami diantar oleh Bima ke Hotel Asia di jalan Monginsidi. Kami tidak langsung diantar ke hotel, namun diajak keliling kota Solo sambil diberitahu tempat-tempat kuliner yang bisa kami kunjungi. Kebetulan melewati depan Pasar Gede, dan saya mengajak singgah untuk melepaskan dahaga di dawet selasih Bu Watik.

Sesampai di depan Pasar Gede, saya, Bima dan maria segera turun dan menuju pasar, sementara Afa tidur dipangkuan Ibunya di dalam mobil. Bima dan Maria rupanya sudah hapal seluk beluk Pasar Gede sehingga kami langsung menuju bagian tengah pasar. Saya lihat ada beberapa penjual dawet selasih yang lain,  namun Bima langsung mengajak menuju dawet Bu Watik karena sejak kecil dia biasa diajak ke situ oleh Ibunya.

Bu Watik

Akhirnya kami sampai ke warung dawet selasih Bu Watik. Dawet Bu Watik, merupakan salah satu dawet selasih yang sudah lama berjualan di Pasar Gede. Bu Watik, meneruskan usaha ini dari Ibunya [mBah Mantri] sejak 15 tahun yang lalu. mBah Mantri meninggal 1 bulan yang lalu. Dalam sehari, dawet Bu Watik habis 50-60 mangkok perhari kalau sepi sekali, sedangkan kalau ramai bisa sampai 1000 mangkok. Salah satu Manten Presiden RI, Bu Mega pernah menikmati dawet ini ketika sedang berkampanye di Solo. Bu Watik tidak membuka cabang di tempat yang lain, bukan takut karena rasanya akan berkurang tapi karena khawatir dengan pengelolaan keuangannya. Read the rest of this entry »